"Pada awalnya, kami menerapkan kegiatan belajar mengajar  formal. Namun dalam perjalanan, kami melihat, karena sakitnya, mereka jadi cepat lelah atau bosan. Jadi, kami menyesuaikan sensor motorik dasar mereka juga pembentukan emosional, "ujar Bu Angelina, salah satu pengajar, ketika ditanya mengenai sistem pembelajaran di Rumah Teduh Suryo (RTS), Rabu (21/1) siang.

 

Menjadi pasien di Jakarta dan meninggalkan tempat  tinggal untuk pengobatan dalam jangka waktu lama,  tentu nya juga meninggalkan bangku sekolah.

 

Hak mereka untuk belajar pun disandera oleh penyakit mereka.

 

Para pengurus di RTS sangatlah concern dengan perkembangan pendidikan pasien anak-anak.

 

Anak-anak ini tidak dibiarkan ketinggalan pelajaran, para pengurus meminta bantuan dari para pensiunan guru dari Paroki Kramat, Gereja Katolik yang berlokasi  tidak jauh dari RTS.

 

“Awalnya untuk memenuhi permintaan bantuan dari Bu Susi, seksi PSE, Kramat untuk mengajar anak-anak. Eh, lama-lama jatuh cinta, ”jawab tiga guru yang mewakili keenam guru lain.

 

Kegiatan belajar mengajar ini berlangsung setiap Senin, Rabu, dan Jumat dari jam 09.00-11.00. Wajib bagi semua anak yang tidak ada jadwal ke poli (murid-murid dan jumlahnya bisa berubah-ubah).

Mengenai pelajaran yang diberikan, disesuaikan dgn level kelas anak-anak.


Beliau melanjutkan, "Pembentukan emosi dengan menggunakan kelompok dan secara pribadi. Melalui kelompok, mereka diajarkan untuk tidak egois, namun saling tolong, toleransi, dll. Secara pribadi, kita lihat masing-masing anak. Bakat, minta dan kreativitasnya seperti apa. Sebagai contoh, Mail. Dia sangat bagus di entertainment. Dia bisa menyanyi atau tampil. Ada Khalid, dia sangat menyukai memasak. Dia sangat detail dan kreatif, membayangkan saat masak, bumbu-bumbu, bahan-bahan masakannya. Lalu Dastan. Dastan sangat kreatif menciptakan sesuatu. Jadi anak-anak berkembang sesuai dengan sensor motorik dasar mereka."(ter)